Senin, 26 Mei 2014

Melepas Kecewa Menggapai Syukur

"Satu kekecewaan itu ibarat sebutir peluru yang langsung ditembakkan  tepat ke jantungmu, sehingga merontokkan semangat dan menghancurkan seluruh sendi kebahagiaanmu. Dan hidup pun seakan menjadi lumpuh."

Dalam hidup ini, pasti kita pernah dihadapkan pada satu situasi yang sama sekali meleset dari prediksi, atau pada suatu keadaan dimana kita sudah melakukan segala sesuatunya dengan maksimal namun ternyata hasil yang didapatkan tetap tidak seperti yang diharapkan. Atau seperti yang saya alami hari ini, dimana hari ini adalah satu hari kerja yang diapit oleh dua hari libur, pada pagi tadi, saya berangkat dan bekerja sebagaimana biasa, dan baru pada pukul 16.00 wita, saya tersadar bahwa ternyata hari ini adalah cuti bersama perusahaan. Sempat ada perasaan kecewa yang begitu besar, karena bila saya tahu dari beberapa hari yang lalu, saya bisa pulang ke Yogyakarta untuk menengok anak anak saya disana, dan mendapatkan libur yang panjang untuk bisa pulang ke Yogya adalah sesuatu kemewahan bagi saya, dan hari ini berlalu begitu saja. aarrrgghh..Terbersit sesal, agak dalam. Hingga rasanya lunglai, ah,,, harusnya saya sudah ada di disana, memandangi merapi, memandangi alun alun. 

Sembari pulang dari kantor, terus menerus saya mengolah rasa ini dan berusaha melepaskannya, mungkin ini sangat sederhana buat sebagian orang, tapi buatku sangatlah berarti, "waktu adalah milik Tuhan, akan ada saatnya bersama dengan mereka lagi, saat ini berarti ada yang harus diselesaikan disini, " kata mbak Adek yang sangat bijaksana. Ya, memang benar apa yang dikatakan semua teman dan anak-anak saya. 
Dan, diakhir perenungan, dengan penuh keikhlasan saya serahkan semua hasil kerja ini untuk perusahaan tempat saya bekerja, mungkin saja sebelum ini saya memiliki hutang waktu dengannya, dan saya impaskan dengan bekerja di hari libur ini, perasaan lega menyelimuti jiwa saya, dan saya merasakan kehangatan cinta dari pelukan sahabat-sahabat dan anak anak. indah.

Tuhan, terimakasih, dan terimakasih kepada guru yang telah mengajarkan saya untuk menerima hidup apa adanya.

"ketika kita mampu melepas kekecewaan dengan cara mengkoreksi kekurangan pada diri sendiri, maka timbullah perasaan rela dan keikhlasan atas apapun yang terjadi pada diri kita. Selanjutnya kita akan merasakan betapa indahnya pelukan cinta dari para sahabat di sekitar kita. Rasakan kehangatan cinta mereka menyelimuti jiwamu, dan bersyukurlah atas karunia-NYA"

Minggu, 18 Mei 2014

Bernyanyi dengan Bijaksana

Di awali pada suatu pagi, beberapa hari lalu, ketika aku berangkat ke kantor, seperti biasa hanya ditemani oleh suara radio. Melalui penyiar yang selalu memperdengarkan kegembiraannya, lagu demi lagupun berlalu sepanjang perjalanan pagi itu, hingga pada satu lagu yang cukup mengusikku, entah apa judulnya, yang pasti dibawakan oleh grup yang cukup kondang di negeri ini. Sebuah lagu yang mengisahkan tentang kekecewaan seseorang terhadap kekasihnya karena merasa ditinggalkan, hingga menimbulkan kesedihan yang berujung dendam. Walaupun sebenarnya banyak lagu yang isinya meratap, dendam, sumpah serapah, namun yang ini menarik untuk dicermati, mengingat sang pengarang dengan berani membawa bawa istilah karma. Walaupun sebenarnya sih sah sah saja seseorang mengusung istilah karma dalam lagunya, hanya saja, aku merasa ada yang tidak pas dengan pemahaman tentang karma yang di suarakan melalui lagu itu, 


"aku yang terusir, jauh dari kamu, jauh dari kamu
cinta dan harapan dibunuh dan mati
bangkit dan terbunuh lagi (semua karena dirimu)
Aku yang mengemis, mengais cintamu seperti pengemis
aku yang dibuang dari relung hati orang yang kucinta

oh Tuhan ampunilah dosa, dendam aku padanya
menunggu karma, aku menunggu karma

dengar dan ingatlah saat aku bangkit dari kesedihan
engkau kan berlutut & memohon diriku, memohon ampunan dari diriku

oh Tuhan ampunilah aku, niat buruk di doa
aku hanya inginkan dia, merasakan getir cinta

menunggu karma (membalasmu)
aku menunggu karma (membalasmu)
menunggu karma (membalasmu)
aku menunggu karma (membalasmu)

Sepertinya ini kali kedua sebuah grup band mengusung tema tentang dendam dengan mengatas namakan karma. Dulu beberapa tahun silam juga ada sebuah grup Band yang terang terangan memberi judul lagu mereka "Karma", yang isinya adalah kurang lebih sama "jangan menangis sayang, kuingin kau rasakan pahitnya terbuang sia sia, memang pantas kau dapatkan." 

Dari dua lagu tersebut rasanya cukup mewakili, bahwa aturan tentang karma yang diyakini umat Hindu dan Buddha dipahami secara salah oleh orang kebanyakan. Seakan akan aturan tentang karma adalah tentang pembalasan atas sesuatu hal buruk dan dekat sekali dengan dendam kesumat. Saya bukan penganut Hinduism ataupun Buddhism, namun saya berusaha memahami apa yang sebenarnya di definisikan tentang hal tersebut menurut mereka. Bukankah kita harus memahami satu peristilahan berdasar budaya asal istilah tersebut timbul agar tidak terjadi salah paham? 

Yang dimaksudkan dalam lagu diatas oleh sang penulis lagu sepertinya adalah tentang Hukum Karma, yaitu satu hukum yang diyakini oleh umat Hindu dan Buddha sebagai hukum alam yang berlaku universal, sebagaimana hukum gravitasi, dimana hukum ini mengikat semua makhluk di muka bumi ini, baik yang mengetahuinya maupun yang tidak mengetahuinya. Hukum karma ini diyakini sebagai hukum sebab akibat, atau hukum tabur tuai. Siapa berbuat dia yang menuai. Hingga titik ini, pemahaman penulis lagu tidaklah salah, bahwa seseorang yang berbuat jahat maka dia akan mendapat balasannya. Karena memang menurut pemahaman hukum karma dalam Hinduism & Buddhism bahwa siapa yang melakukan dialah yang akan mendapatkan dan itu tidak dapat diwakilkan kepada orang lain, walaupun itu keturunannya sekalipun. 
Pencipta lagu ini menyuarakan hal tersebut, yaitu suara seseorang yang sedang dilanda sakit hati yang amat sangat maka ego-nyapun berbicara lantang, bahwa pasti akan ada balas yang didapatkan oleh orang yang menyakitinya. Seperti yang diulas diatas, hingga titik pembicaraan ini masih bisa dibenarkan, akan tetapi bila dipahami lebih jauh, ternyata ada pemahaman yang belum pas.

Menurut ajaran Buddha yang saya baca, "kehendak untuk berbuat itulah yang dinamakan karma, setelah berkehendak orang akan melakukan perbuatan melalui berpikir, ucapan dan tubuh jasmani". Jadi bila menurut pemahaman aslinya baru berniat lalu berpikirpun itu sudah membentuk karma, bisa karma baik, bisa juga karma buruk. Bila dalam lagu tersebut sang penulis membuatkan alur bahwa seseorang yang tersakiti berharap, bahkan sampai berdo'a agar orang yang menyakitinya mendapatkan kegetiran yang sama, disinilah letak kesalahannya, dengan pemikiran buruk tersebut berarti orang yang tersakiti itu justru membentuk karma buruknya sendiri, dan bila demikian maka menurut hukum karma, dirinya sendirilah yang akan mendapatkan balasan seperti yang dia pikirkan/harapkan agar terjadi pada orang yang menyakitinya. Ironis bukan?

Kembali pada lagu diatas. Menurut Bunda Arsaningsih seorang guru meditasi dengan energi, beliau menyatakan bahwa sebuah lagu adalah sarana mengungkapkan suasana hati, bila sebuah lagu dinyanyikan dengan penuh penjiwaan maka akan mampu menyentuh relung hati kita, dan akan tersimpan dalam rekaman bawah sadar orang yang menyanyikan, syair lagu bisa menjadi semacam affirmasi ke dalam diri. Bila sebuah lagu memuat sesuatu yang salah, tentu saja berarti orang yang menyanyikannya dengan penuh penjiwaan adalah sedang mengaffirmasikan sesuatu yang salah pula ke dalam dirinya. Oleh karena itu sebaiknya memang kita cermat dan selektif memilih lagu agar kita tidak menancapkan pemahaman yang salah ke dalam diri kita. 

Bernyanyilah dengan bijaksana


Just a note :

Bahwa segala tindakan akan dinilai dari niatnya, ketika seseorang berdo'a atau berharap atas nama dendam tentunya tak akan bisa dibenarkan oleh paham atau agama apapun itu.

dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, aku mendengar Rasulullaah salallahu 'alaihi wassalam bersabda, 
" Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapat balasan sebagaimana niatnya. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah & Rasulnya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa hijrahnya diniatkan untuk kepentingan harta dunia yang hendak dicapainya atau karena seseorang wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya akan dibalas sebagaimana yang ia niatkan." 

Rabu, 23 April 2014

Semesta Menggugah Pagi

Satu pagi lagi kujumpai
di ufuk timur, surya merekah memerah jambu
kicau burung menyanyikan kidung bahagia
kokok ayam bersahutan gembira
Alam mengingatkan manusia untuk kembali pada jasadnya
menagih janji atas kesanggupan memikul amanatNya

Keriap kelopak mataku perlahan membuka
kembalikan jiwa pada kesadaran
berucap syukur
dan meneguhkan kembali syahadat,
pengakuan mutlak atas keEsaanNya
pengakuan atas satu nama sebagai sang jalan untuk membimbing jiwa jiwa manusia menuju khalikNya
dan bermohon, Ya Nuur, Ya Waduud, Ya Qaadiir
ENGKAU lah Sang Maha Cahaya, biarlah CahayaMu hadir menerangi dan membimbingku senantiasa
ENGKAU lah Sang Maha Cinta biarlah CintaMU hadir dan membuatku mengasihi segala ciptaanMu
ENGKAU lah Sang Maha Kuasa biarlah aku menjadi saluran kuasamu untuk senantiasa bekerja demi keseimbangan semesta raya..

Allaahu akbar Allaahu akbar Allahu akbar


Kamis, 03 April 2014

Sunyi

Memasuki awang uwung
Suwung
Ketiadaan
Ruang yang hanya berisi udara tanpa cahaya
Mataku tak mampu menangkap bayang
Tak mampu menatap sosok apapun
Hanya mata jiwa
Melihat kedalam
Menembus nurani
Mencoba mengenali jati diri

Menyepi
Menepi dari hiruk pikuk tak kunjung berhenti
Teringat kata katamu malam itu
Mengapa manusia tak pernah berhenti hingga selarut ini??
Heranmu terbungkus tanya yang tak terjawab olehku
Andai aku mampu membisikmu
Malam ini kan kuajak kau serta dalam sunyi

Aku memasuki sunyi dalam imaji
Kutangkap suasana
Kuresapi makna
Seperti sunyi yang paksa kudapatkan beberapa tahun silam
Kala bumi dihentak dan di goncangkan
Hingga mengerang dan mengaduh dalam nestapa panjang
Tintrim itu pernah menjadi bagian hidupku

Namun bukan, bukan sunyi yang seperti itu
saat ini aku belajar menggenggam sunyi
bukan sunyi yang mencekam
namun sunyi yang menentramkan
sunyi yang damai
pun dalam keramaian
hening.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1936 

Kamis, 23 Januari 2014

Menyentuh Bumi



Menyentuh bumi

Luluh
Larut

Berselimut sinar mentari senjakala
Aku terbaring dalam hamparan pasirmu
Berselimut sinar mentari
Aku menyatu dengan pantaimu

Debur ombak bergetar seirama degupan jantungku
Aku menyatu dengan samuderamu

Desah nafas halus larut dalam udara
menarik keluar segala kekotoran
membasuh rongga paru-paruku
Aku menyatu dengan semestamu

O..ibu pertiwi
tanah, air, udaramu menyatu dengan merah darahku
O..ibu pertiwi
Aku mencintaimu seperti kau mengajariku tentang cinta tanpa menuntut balas

Kamis, 02 Januari 2014

Tanah Surga


Lestari alamku, lestari desaku.
Dimana Tuhanku menitipkan aku,
Nyanyi bocah-bocah dikala purnama,
Nyanyikan pujaan untuk nusa..
Damai saudaraku, suburlah negriku,
Kuingat ibuku dongengkan cerita,
Kisah tentang jaya nusantara lama, tentram kerta raharja disana...

Sepenggal nyanyian itu selalu mengajak ingatanku mengelilingi bumi nusantara yang beberapa bagiannya sudah aku jelajahi selama separuh usia hidupku. Hutan tropis yang sejuk dan menenangkan membawakan aroma damai. Sederet pohon kelapa meliuk-liukkan batangnya, dedaunan rampingnya melambaikan salam. Hijau berbaur dengan birunya laut dan langit. Pasir putih menghampar menyambut hangat para tetamu yang menyambangi pantai. Peninggalan-peninggalan bersejarah terserak di setiap jengkal tanah negri ini. Dari jaman purbakala hingga jaman ketika manusia mampu menuliskan prasasti untuk mengabadikan pesan bagi generasi selanjutnya, aneka bangunan-bangunan pemujaan, dari yang sederhana hingga yang megah menjulang di angkasa.

Beberapa abad lampau mereka menamainya dengan Nusantara, dan saat ini lebih di kenal dengan Indonesia. Bangsa ini pernah berjaya dan tanah ini menjadi saksi kejayaannya.  Tanah ini juga pernah menjadi saksi atas darah dan airmata yang tertumpah di pangkuannya. Tanah negri ini merekam jejak jejak perjalanan bangsa kita. 

Namun lazimnya yang terjadi, bahwa melihat kedalam diri sendiri tak semudah memandang orang lain. Begitupun memandang sebuah bangsa. Adalah seseorang yang justru berkebangsaan asing yang mampu menguak masalalu bangsa ini, negeri ini, Atlantis.

Percaya tidak percaya itu adalah keyakinan masing-masing pribadi, namun yang pasti seorang Profesor Santos menguak sejarah, mengemukakan teori Atlantis melalui bukti-bukti yang ilmiah. Dikatakannya bahwa bangsa Atlantis adalah induk dari kebudayaan tertua di bumi ini, yang akhirnya menyebar ke seluruh penjuru bumi. Dikatakan bahwa kehidupan di Atlantis adalah sebuah konsep surga yang mewujud di dunia. Dimana di sana terjadi satu pola kehidupan indah, saling tolong menolong, saling peduli, saling menghormati, harmonis, serasi dan selaras. Kebudayaan berkembang dengan baik, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dipelajari oleh bangsa tersebut. Dan, Atlantis itu adalah disini, di Indonesia.

Mungkin beberapa orang meremehkan dan tidak mempercayai teori itu, namun kenyataan-kenyataan tak bisa dipungkiri. Bangsa ini adalah bangsa yang tua, dari peninggalan budayanya secara kasat mata dapat dilihat dan bukti-bukti sejarah memang menunjukkan bahwa memang sudah sejak lama negeri ini memiliki kebudayaan tinggi.

Namun saat ini, bangsa ini sedang dalam siklus kaliyuga, jaman kegelapan. Sebagian besar anak-anak bangsa tak mengenali lagi jatidirinya. Mengagungkan nilai-nilai dan peradaban yang datang dari luar dirinya. Peradaban, budaya dan nilai-nilai agung bangsa ini terbenam dalam berlapis-lapis budaya asing, bahasa ibu dikenal di permukaan saja, kearifan lokal dikenal hanya oleh beberapa gelintir orang yang masih mau belajar. Beberapa orang yang menganggap dirinya pandai, sibuk merumuskan berbagai hal yang katanya untuk memajukan bangsa ini, namun lupa membenahi dirinya sendiri. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani tinggal sebagai selembar slogan yang terpampang di dinding-dinding sekolah dan bukan meresap dan mengejawantah pada jiwa-jiwa pendidik bangsa ini. Sampai kapan kita kan begini?

Lihatlah, kita punya semuanya, Tuhan sudah menyediakan semua yang kita butuhkan, bukalah mata kebijaksanaan, lihatlah negeri nan subur, gemah ripah loh jinawi. Semua manusianya mengenal Tuhan, marilah lebih dekat lagi mengenalNYA, dengan cara-cara yang kita kenali masing-masing, dengan cara-cara bijaksana dan penuh kerendah hatian, agar apa yang diajarkanNYA mengejawantah di semesta Nusantara dan terwujudlah tata tentrem karta raharja, surga di muka bumi. So be it..

Bukan lautan hanya kolam susu,
Kail dan jala cukup menghidupimu,
Tiada ombak tiada badai kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu.
Orang bilang tanah kita tanah surga,
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

*ditulis 1 Januari 2014 siang di Penamparan, Indonesia. Terimakasih pada Tuhan, terimakasih pada guru bangsa dan guru jiwaku..

Sabtu, 13 Juli 2013

Cerita Kunci

Sebuah kunci membuat cerita di suatu malam. Kunci yang membuka sebuah kesadaran, menuju sebuah kedalaman.

Tiga perempuan terlihat bersama-sama melewatkan malam panjang menuju ke arah Jalan Legian. Sepanjang jalan menuju butik yang menjadi tujuannya, perempuan kedua sibuk membagi ceritanya tentang pelajaran-pelajaran hidup yang dia dapat hari itu bersama Gurunya, perempuan kesatu berceloteh tentang kejutan-kejutan indah dalam hidupnya yang baru-baru ini dia rasakan, dan permpuan ketiga bercerita tentang rasa kesalnya karena suaminya tak kunjung bisa dihubungi. Amarahpun terletup dari ceritanya, sebenarnya tak cukup membakar mereka bertiga, namun cukup membuat jiwa yang sejuk menjadi terpercik noda. Dua yang lain mendengarkan sambil tertawa-tawa. Sesekali mereka saling menimpali. Seakan malam itu adalah milik mereka bertiga. Asyik tenggelam dalam cerita, hingga tak terasa sampailah pada tempat yang dituju.

Kendaraan dihentikan pada tempat yang semestinya, namun sebelum turun perempuan ketiga menanyakan mengapa isi tas yang ada didepannya berhamburan, sambil memunguti isinya. Perempuan pertama mengatakan, memang dia yang mengeluarkan karena mencari-cari kacamatanya yang sepertinya ketinggalan di dapur tempat ia mengerjakan tugasnya sore tadi. Lalu mereka bertigapun turun, setelah memastikan pintu kendaraan terkunci, perempuan kesatu beriringan berjalan dengan teman-temannya. 

Butiknya agak jauh dari tempat mereka memarkir kendaraan, namun dengan sejuta cerita yang saling timpal menimpali tak terasa kaki sudah didepan tempat yang dituju. Lalu mereka bertigapun masuk dan langsung asyik memilih-milih pakaian yang dicari. Perempuan kedua dan ketiga terlihat asyik memilih dan mencoba-coba, namun perempuan kesatu tampak gelisah, teringat akan kacamatanya yang ketinggalan. Namun ia tak yakin apakah benar-benar tertinggal. Sembari menunggu teman-temannya memilih dia mencoba-membongkar-bongkar isi tasnya, tak ada. Namun belum juga ia yakin, dicarinyalah tempat duduk di ujung butik didekat mesin jahit tua, sambilmasih mengaduk aduk isi tasnya. Tak ada. Akhirnya dia yakin kacamatanya tertinggal di dapur tempat ia bertugas sore tadi. Sebentar kemudian ia bangkit dari duduknya, sambil asyik ikut melihat-lihat pakaian kebaya yang ada, sesekali ia mengomentari pakaian yang dicoba perempuan kedua dan perempuan ketiga. 

Tenggelam dalam keasyikan berbelanja, tiba-tiba dia teringat untuk menyiapkan kunci kendaraannya agar nanti pada saat pulang tidak perlu grubag grubug mencari. Dirabanya kantong-kantong celana jeans yang dikenakannya, kosong. Lalu dicari-cari di dalam tasnya tak ada. Dia mencoba mengingat, ya, dia ingat betul, tadi sewaktu akan duduk di dekat mesin jahit, dia merasa kunci itu mengganggu kenyamanan duduknya, lalu dia mengambil kuncinya dan memasukkan kedalam tasnya. Berarti kunci itu ada di dalam tasnya. Dibongkar seluruh isi tas, tak ada. Lalu perempuan itu bertanya pada penjaga butik, dimanakah kuncinya, tak ada yang tahu. Perempuan kedua meyakinkan perempuan pertama bila dia tadi melihat kunci itu sudah dibawa masuk kedalam butik. Perempuan ketiga juga meyakinkan bahwa kunci itu sudah dimasukkan kedalam tas perempuan pertama. Sekali lagi dibongkarlah isi tasnya, tetapa tak ada. Ragu dan cemas mulai melanda perempuan pertama, ketika rekan-rekannya menganjurkan mencari sekali lagi didalam butik, perempuan pertama ragu, "biarkan aku memastikan lagi, mungkin ketinggalan didalam kendaraan". Lalu berjalanlah ia menyusuri trotoar yang tadi mereka lewati, sambil celingukan barangkali menemukan benda itu disekitarnya. Hingga sampai ketempat kendaraannya berada, kunci itu tetap tak jua ditemukan. Orang-orang disekitar kendaraan itu ditempatkan juga tak ada yang melihat adanya kunci yang tercecer. Namun setidaknya dia tenang, kuncinya tak tertinggal didalam kendaraan, kendaraannya sudah terkunci dengan aman. Kembalilah ia kedalam butik, dan menggelengkan kepala kepada rekan-rekannya, "Tidak ada." 

Perempuan ketiga yang cukup peka segera meminta perempuan pertama untuk duduk, "cobalah duduk, dan berdoalah, seharusnya kunci itu ada didalam tasmu."  Sambil perempuan pertama berdoa, perempuan ketiga juga berdoa. Lalu mereka bongkar lagi isi tas perempuan pertama. Tetap tak ada. Penjaga butik dan pemilik butik menjadi ikut cemas. Perempuan pertama tetap tenang, dia beringsut keluar butik, nampak dia khusyuk berdoa lalu menelepon seseorang.  Perempuan kedua menyelesaikan transaksi baju-baju yang dia beli, lalu menghampiri perempuan pertama, dan menenangkannya, "Terpaksanya nanti pulang naik taxi, baru besok pagi diurusin parkirnya." katanya tenang sambil tersenyum-senyum. Ibu pemilik butik yang ikut cemas, mengaduk-aduk jahitannya, barangkali kunci itu ada terselip disitu. Namun tetap saja tak ada. Perasaan masygul memenuhi hati perempuan pertama, aneh sangat aneh, padahal ia ingat betul apa yang dia lakukan tadi. Ia yakin kunci itu ada didalam tasnya. Lalu tiba-tiba ia teringat di masa kecilnya dulu, terkadang ibunya kehilangan sesuatu, bisa jadi gunting, atau peralatan yang lain, lalu beberapa hari kemudian tiba-tiba muncul ditempat yang tak diduga-duga. Kata ibunya dulu, sedang dipinjam sesuatu yang tak nampak, "sudah biarkan saja, besok kan kembali". Begitu pula suaminya dulu, sering mengatakan hal yang sama. Kadang-kadang aku tak percaya. Tapi saat ini iyakah itu yang terjadi? kenapa salahku?? Apa karena waktu masuk tadi tak berucap salam??  Diguncang-guncang aneka pertanyaan, hingga perempuan ketiga kembali masuk dan tersenyum sembari berjalan kearah perempuan pertama, katanya, "sudah, aku bayar baju-baju ini dulu, sambil jalan, nanti kalau tidak ketemu kita naik taksi atau memanggil tukang kunci." 

Sekeluar dari butik perempuan ketiga bercerita, "Maafkan aku, ini semua salahku, aku pengajar spiritual, tak seharusnya aku melakukannya. Aku khilaf. Aku teringat, waktu berangkat tadi aku marah-marah dan menyalahkan suamiku beserta temannya, seharusnya aku menyadari. tak boleh lagi ada jari yang menunjuk pada orang lain. Akhirnya aku tadi menghubungi dan bertanya pada Guru, ya, kata beliau memang ini sebuah teguran dari Tuhan, bahwa seharusnya aku tak membiarkan ada amarah, apalagi menimpakan kesalahan pada orang lain, apalagi menunjuk orang lain sebagai sumber sebuah kesalahan. Seharusnya dengan kapasitasku aku mampu melihat kedalam diriku sendiri dan mengendalikan semuanya. Tak seharusnya aku .meninggalkan rumahku karena esok pagi aku harus mengajar sebuah hal yang sangat penting, tentang sebuah kebenaran, yang mana dalam menyampaikannya membutuhkan konsentrasi dan fisik yang prima, seharusnya aku menyiapkan diri sebaik mungkin, mengendalikan semuanya dengan baik, namun aku justru melanggar apa yang dilarang oleh Tuhan, dan Tuhan-pun marah padaku. Maafkan aku, karena kalian menjadi ikut merasakan teguran ini.". Perempuan pertama dan kedua tersenyum, memaklumi semuanya, "Ya sudah, kita lihat saja, nanti, mudah-mudahan setelah meminta maaf pada semua dan pada Tuhan kuncinya ketemu" Kata mereka berdua. Lalu dengan riang mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar menuju tempat kendaraan mereka berada.

Beberapa saat berlalu, sampailah mereka pada tempat yang dituju. Ibu-ibu disekitar kendaraan menanyakan pada perempuan pertama yang tadi sempat menanyakan kunci pada mereka, " kuncinya ketemu bu?" Mereka bertiga menjawab bahwa kunci belum ketemu. 
Sedetik saja, tanpa sempat mencari lebih jauh, tiba-tiba kerumunan orang yang sedang main kartu di trotoar depan sebuah toko berteriak pada mereka bertiga, "Ibu cari apa? yang hilang apa?" "Iya pak, sebuah kunci mobil." "Inikah?" Kata salahsatunya, sambil mengacungkan kunci yang dicari-cari. Perempuan pertama si pemegang kunci terlonjak kegirangan  sambil mengatakan, "ya.. itu kunci saya, bapak menemukannya dimana?" Bapak itu mengatakan, bahwa kunci itu tergeletak di tengah jalan. Wow!! padahal mereka tadi sama sekali tak melewati tengah jalan itu. 

"Bagaimana" dan "kenapa" tak sempat lagi terucap panjang lebar, segera setelah berucap terimakasih kepada Bapak yang menemukan kuncinya mereka berucap syukur dan terimakasih pada Tuhan yang menegur mereka dengan caraNYA yang indah.