Kamis, 09 Juli 2015

Memberikan Kepercayaan dan Cinta Pada Anak-anak Kita

Menjadi ayah dan ibu, adalah hal yang bisa dijalani oleh setiap laki-laki dan perempuan. Namun menjadi orang tua yang bijaksana bagi anak-anak kita, membutuhkan satu pengetahuan tersendiri. Begitu juga melahirkan dan membesarkan anak, jauh lebih mudah daripada mendidik dan mengasuhnya.
Seorang anak, terlahir dari benih ayah dan ibunya, Ayah dan ibu merasa anak adalah bagian dari dirinya, maka terkadang ayah dan ibu menjadi lupa, karena saking inginnya si anak menjadi orang "sukses" menurut kacamata mereka maka, ayah dan ibu membuat ketentuan-ketentuan pada anaknya, bahwa si anak harus sekolah di tempat terhebat, termahal, terfavorit, yang terkadang justru membuat anak tidak nyaman menjalani kehidupannya. "Menyiksa" dan membuatnya menderita dibalik pembenaran/kedok untuk "masa depannya" yang lebih baik.

Marilah kita para ayah dan ibu sejenak merenung, kita kembali pada hakikat awalnya. Seorang anak adalah amanah, titipan Tuhan, lazim kita sebut sebagai buah cinta. Anak adalah wujud cinta Tuhan pada manusia, ladang amal untuk ayah dan ibunya, maka seyogyanya anak adalah tempat curahan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Namun lihatlah, di zaman akhir ini, nilai-nilai dari Tuhan demikian tergerus, dan manusia hidup dalam "lupa"nya, tanpa sadar dengan kesombongan menggantikan nilai nilai Tuhan itu dengan nilai-nilai yang dibuatnya sendiri.

Satu contoh adalah pengalaman saya, mudah-mudahan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi ayah ibu yang memerlukannya. 
Saya membesarkan anak-anak saya dalam hal pendidikan, nyaris tanpa kendala, dan saya sangat bersyukur akan hal tersebut. Disaat orang lain menuntut anak-anaknya harus bersekolah di sekolah terfavorit, saya santai-santai saja, namun ternyata mereka mampu mendapat yang terbaik. TK, SD pindah-pindah dari Solo, Samarinda dan akhirnya Yogyakarta. Anak-anak saya sekolah di SD Negeri dan SMP Negeri dengan kualitas sedang-sedang saja. Namun dengan usaha mereka sendiri ternyata mereka mampu masuk di SMA terbaik di Yogyakarta yang berstandar internasional, dan juga masuk ke Perguruan Tinggi Negri terbaik di negeri ini. Mungkin saya terlena, terbiasa mendapat fasilitas VVIP dari Tuhan. Mungkin kesombongan saya juga mulai tersemai. Setahun, dua tahun berlalu, saya merasa semua baik-baik saja,saya lupa, sepertinya saya mulai tidak rutin memperhatikan mereka. Mereka seperti pohon yang tumbuh sendiri, dan saya pun sibuk sendiri, asyik dengan pekerjaan dan dunia saya di kota yang berbeda. Walaupun saya sudah belajar pada seorang Guru tentang perihal budi pekerti dalam kehidupan, namun ternyata, setiap pengetahuan tak pernah menjadi absah jika tanpa melalui ujian, dan kita harus lulus. Saya merasa bisa mengendalikan semua dari jauh.
Dan akhirnya Tuhan menyentil saya.

Suatu sore pada bulan Oktober/November 2014 silam, anak saya mengirim pesan singkatnya, "Ibu aku bisa telpon?", Akhirnya saya keluar ruangan kantor dan saya menelponnya. Dahsyat. Anak saya, laki-laki, dia menangis, memohon maaf, memohon ampun pada saya, ibunya, karena merasa dia gagal menjadi anak, dia merasa gagal kuliah. Dia ketakutan bila di DO dari kampusnya, dan terlebih lagi dia ketakutan teramat sangat pada ayahnya. Dia memiliki trauma kekerasan pada ayahnya, yang cukup besar, dan dia saya sadar sepenuhnya, dia juga memiliki trauma pada saat dalam kandungan saya sehubungan dengan proses study. Saya lemas, kota tempat saya bekerja dengan tempat anak saya tinggal membutuhkan 9 jam perjalanan. Sementara anak saya disana menangis, nyaris putus asa. Dia merasa hidupnya sudah tak berguna, tak ada gunanya melanjutkan hidupnya. Dan dia sempat mengatakan apakah ibu tidak malu bila aku tak kuliah di perguruan tinggi ini? Jujur, sempat terbersit rasa kecewa dengan dia, sudah baik-baik kuliah disitu kenapa sih mesti bilang nggak kuat, toh tinggal menjalani saja, pikir saya. Namun kembali saya teringat, saya tak boleh memaksakan kehendak saya gengsi saya sebagai ibu yang berhasil mengkuliahkan anak anaknya di perguruan tinggi favorit. Saya berproses dengan diri saya sendiri. Saya berusaha keras menundukkan ego saya.
Saya diam dan menahan semuanya. Hanya satu kata Bunda, guru saya yang saya ingat, tidak perlu cemas, serahkan semua pada Tuhan, karena setiap jiwa memiliki jalan hidupnya masing-masing. Relakan apapun yang terjadi, hanya akan terjadi bila memang mjd kehendak Tuhan. Sambil terus berdoa dan mengirimkan cinta padanya. 

Tuhan mengatur semuanya dengan begitu indah.
Saat-saat tergelap itu, di Bali digelar acara conference Happy & Healthy Mind Body & Soul oleh Bunda Arsaningsih, bukan kebetulan. Dan bukan kebetulan juga bahwa anak saya mau mengikuti acara tersebut. Hanya satu tujuan saya, semoga dia bisa berpikir dengan sehat, dan bisa melepas traumanya. Namun ada satu hal yang membuat saya gamang untuk mengikuti acara tersebut, biaya.
Tapi saya bertekad harus berangkat, meskipun saya harus naik bus ekonomi, yang penting mbuh pie carane anakku kudu tekan Bali dan ketemu Bunda Arsaningsih.
Dan lagi lagi Tuhan begitu baik, permohonan cuti saya diijinkan, dan bahkan tanpa saya meminta, justru pada hari-hari yang berturutan tersebut saya malah mendapatkan tugas kantor ke Bali, walaupun saya tetap mengemukakan pada atasan bahwa saya tidak keberatan bila saat cuti keberangkatan ke Bali atas biaya sendiri dgn naik bus, ternyata atasan saya memberi kelonggaran tiket pesawat maju menyesuaikan jadwal curti. Dengan kata lain, saya tidak perlu mengeluarkan biaya pribadi untuk transport saya. Saya tinggal memikirkan anak saya. Dan keberangkatan anak sayapun mendapat support berupa pinjaman dari teman baik saya (makasih meneer pinjaman tiketnya waktu itu) Tak ada yang kebetulan, semua diatur begitu rapi, tak ada keraguan lagi, Tuhan Maha Baik.
Dan benar, dalam agenda acara yang berlangsung 3 hari itu, salah satu nya adalah melepaskan trauma yang terekam dalam pikiran bawah sadar. Meskipun jujur, saya tak berani berharap banyak, namun yang penting perhatian anak saya bisa teralihkan sejenak. Dalam acara tersebut selain pengetahuan anak saya juga mendapatkan limpahan kasih sayang dari semua keluarga yang tergabung dalam SOUL comunnity dan tentusaja support moral dan energy dari Bunda Arsaningsih. Saya sedikit lega.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, anak saya membulatkan tekadnya utk mengikuti test lagi. Belum banyak perkembangan yang terlihat dari hasil dia mengikuti conference Happy Healthy Mind Body & Soul. Ya sudah, saya tak mau berpikir. Biarlah semua terjadi menurut kehendak Allah.
Hingga sehari menjelang pendaftaran perguruan tinggi, anak saya menelpon, dan menanyakan apakah bila dia menelpon ayahnya, ayahnya akan marah? Saya kuatkan dia malam itu, saya yakinkan bahwa beliau tak akan marah. Akhirnya, sesuatu yang beku itu, yang menjadi trauma selama bertahun tahun cair, subhanallaah.. Allahu akbar. Akhirnya ujian kesabaran pun teruji sudah, memang sabar itu benar benar butuh perjuangan, dan saya teringat kata-kata Bunda Arsaningsih, bahwa, semua benih butuh waktu untuk bertumbuh. Begitupun saat trauma itu dilepas dari anak saya, barulah benih keberanian mulai bersemi, dan baru berbuah beberapa bulan kemudian. 

Test sudah dilalui anak saya, kami pun menyerahkan semua pada Tuhan, karena jujur, bila saya memikirkannya, maka pikiran buruklah yang akan muncul, karena biasanya test bagi mahasiswa yang sudah kuliah disitu itu jauh lebih kans nya utk bisa diterima. Jadi saya berusaha menstop pikiran dan perasaan saya. Dan berusaha selalu mensupport dari jauh dengan doa dan cinta saat anak saya pada saat saat tertentu merasa galau lagi.

9 Juli 2015. 
Waktu pengumuman itu tiba, siang di sela sela pekerjaan saya hubungi anak saya, untuk menanyakan pengumuman hasil testnya, dan ternyata masih pukul 17.00 diumumkan. Menjelang pengumuman itu anak saya gelisah bukan main, dia tidak berani membuka website. Ketakutan dan kembali merasa terpuruk. Saya berusaha menghubungi ayahnya, ayahnya bercerita bahwa tadi saat ditelpon anak kami bersedih yang teramat dalam, Namun kami, ayah dan ibunya berusaha tetap tenang, karena kami sadar, bahwa ukuran kesuksesan bagi anak anak kami bukanlah dimana dia kuliah, atau apa pekerjaan dia nanti, namun yang terpenting adalah, dia bertanggungjawab atas hidupnya sendiri.
Dan akhirnya menjelang pukul 21.00 wib pengumuman bisa diakses, dan subhanallah wal hamdulillah Allahu akbar, dia diterima di perguruan tinggi dan fakultas yang dia impikan. Tuhan, terimakasih.

Akhirnya, tulisan ini saya dedikasikan kepada guru saya Bunda Arsaningsih, yang telah membimbing kami sekeluarga, dan khususnya saya untuk bisa mengendalikan pikiran, melepas kecemasan dan mengisi perasaan dengan hal-hal positif agar, hal positif juga yang mewujud dalam hidup kita. Terimakasih sudah menuliskan pelajaran tentang kehidupan melalui buku Soul Reflection, sehingga jarak dan waktu tak menjadi batasan untuk terus belajar.

" Biarkan mereka mengalami masalah, jangan kita merasa cemas dengan masalah yang mereka hadapi karena mereka akan belajar dengan masalah tersebut. Pahami lebih dalam, mereka memang harus mendapat masalah tersebut karena itulah yang mereka tanam dahulu, atau itulah hasil perbuatan yang mereka terima saat ini. Sebagai orang tua, kita tidak dapat menghindarkan anak-anak kita. Belajarlah untuk tidak terikat dengan anak-anak kita karena mereka mempunyai suratan takdir masing-masing. 
Sebagai orang tua, kita hanya berperan untuk membantu mereka bertumbuh, mendampingi mereka ketika mereka berada dalam kesulitan, memberi penguatan untuk membuat mereka lebih bersemangat dan melimpahi mereka dengan perhatian dan cinta."
( #soulreflection page 134-135)

Jumat, 22 Mei 2015

Tetap Bahagia dengan Menerima Semua Apa Adanya

Berinteraksi dengan orang lain dalam pergaulan sehari-hari rasanya adalah hal yang sangat sepele. Semua orang pasti menjalani, karena sebagai makhluk sosial, tentu saja manusia tak bisa berdiri sendiri, selalu saling membutuhkan satu sama lain dan melewati berbagai macam bentuk interaksi. Namun di lain sisi, manusia juga berfungsi sebagai makhluk individu, yang memiliki ego dan karakter tersendiri. Dengan ego dan karakter ini manusia memiliki kehendak dan sifatnya masing-masing.
Dari berbagai fakta tentang manusia inilah nantinya yang akan membentuk satu pola pergaulan dalam kehidupan, dimana manusia akan berinteraksi satu dengan lainnya, selain untuk memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk sosial, sekaligus manusia juga akan menyuarakan keinginannya seperti karakter yang dimilikinya.

Semenjak kecil, kita semua tentunya diajarkan oleh orang tua kita bagaimana bergaul, berinteraksi yang baik dengan teman-teman kita. Mungkin dulu waktu kecil mudah saja kita berteman, berantem, lalu berteman kembali tanpa sakit hati. Karena memang jiwa kanak-kanak masih murni, sehingga lebih mudah memaafkan dan melupakan. Namun seiring bertambah usia, bertambah pengalaman hidup, maka mulailah terbentuk karakter dari masing-masing kita. Disinilah dinamika kehidupan dimulai. 

Pergaulan yang seharusnya hanya sebagai sarana untuk berinteraksi menuju tujuan utama hidup, terkadang akhirnya justru menjadi sumber masalah. Misalnya, kita bekerja di sebuah kantor, disitu kita mendapati atasan yang sangat otoriter dan mendominasi sehingga kita sangat tertekan, kreativitas kita hilang dan kita merasa sangat menderita menjalani pekerjaan, walaupun sebenarnya pekerjaan tersebut adalah hal yang sangat kita kuasai. Atau misalnya, kita memiliki teman yang dicap sebagai orang yang kekanak-kanakan dan maunya menang sendiri, sehingga dalam setiap proyek dia selalu membuat tak nyaman rekan satu tim. Atau dalam rumahtangga, kita memiliki suami yang pemalas dan menganggur, sehingga di rumah kita menjadi selalu uring-uringan. Hal-hal tersebut diatas adalah hal hal yang sangat lazim ada disekitar kita, atau mungkin justru kita sendiri yang mengalaminya. 

Disaat diri kita yang ada dalam pusaran kejadian tersebut diatas, maka yang muncul adalah rasa menderita, kecewa terhadap orang lain tersebut, sedih, marah, dan seterusnya, yang intinya kita merasa kitalah yang menjadi korban akibat orang lain yang seenaknya saja. Bila ini terus berlanjut, maka  kita membelitkan diri didalam masalah tanpa kunjung usai,  maka tanpa terasa kita tidak move on, dan tetap stuck di tempat dan melupakan tujuan kita sebenarnya.

Rasanya sulit sekali melepaskan diri. Apakah tidak ada solusi untuk hal tersebut ??

Dalam Soul Reflection yang pernah saya pelajari, kita akan mengetahui bahwa, kemarahan, kecemasan, kesedihan dan kekecewaan bisa terjadi karena kita belum memiliki cukup kerendah hatian, kita masih memprioritaskan ego kita diatas kepentingan orang lain. Maka pemahaman lebih dalam tentang jiwa akan membantu kita untuk bisa mengerti mengapa orang lain berlaku seperti itu. Bila semua telah diketahui, tentu kita tidak lagi akan mentang-mentang dan mengacungkan telunjuk kita untuk menuduh orang lain sebagai biang permasalahan, namun justru kita yang akan introspeksi diri, lalu dengan penuh kesadaran mengubah pola pikir kita. Untuk membuat gambaran yang baik, melalui kata-kata positif dalam afirmasi dan membayangkan bahwa orang-orang disekitar kita tersebut bukanlah trouble maker, mereka hanyalah orang yang kurang memahami orang lain, mereka berubah menjadi baik, bijaksana, bisa bertoleransi, rajin, dan tahu sopan santun, dan berbagai hal positif lain yang kita inginkan, lalu serahkan semua pada Tuhan. Karena kita tahu, hanya Tuhanlah yang berhak memutuskan, bukan kita.

Dengan mengubah mindset kita menjadi positif, maka semua juga akan mengikuti. Perasaan kita pasti menjadi lebih nyaman, tenang dan lebih berbahagia. Dan dengan segenap kerendahan hati kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa menuntut semua orang seperti mau kita, karena semua memiliki latar belakang dan proses yang berbeda. Dan yang pasti pada akhirnya kita menjadi paham bahwa kita justru harus bersyukur karena dengan bertemu dengan mereka yang sulit, kita mendapat kesempatan untuk belajar bersabar, memahami dan berbuat baik melalui doa-doa yang baik untuk mereka tanpa mereka minta. 

Lebih dalam lagi pemahaman ini adalah dengan metode Soul Meter, dimana kita bisa mengukur seberapa banyak emosi kemarahan kita memancar, seberapa sedih kita, seberapa kecewa kita, sehingga setelah kita melakukan perubahan mindset bisa kita lakukan evaluasi/kroscek, apakah semua emosi, kemarahan, kesedihan, kekecewaan yang tadi sudah kita bersihkan benar-benar sudah bisa kembali nol? Bila belum nol, kita akan terus berusaha memurnikan diri lebih dalam lagi dengan benar-benar terukur.


Semua sangat mudah bila kita memahami Soul Reflection dan Soul Meter. Itulah mengapa Soul is Soulution.

Jumat, 15 Agustus 2014

Wadah Cinta

Jiwa kita adalah ibarat sebuah wadah, wadah yang tak kasat mata yang berfungsi untuk menampung energi cinta-Nya lalu menyalurkannya bagi semua makhluk di alam semesta. 

Kapasitas jiwa sebagai wadah cintaNya ini sangatlah dinamis, dia bisa bertumbuh semakin besar apabila sang jiwa menyadari tugas kemanusiaannya, sehingga dengan sadar jiwa ini selalu membersihkan dirinya dari hal-hal yang mengotorinya, yang mana hal-hal yang mengotori itu akan membuat kapasitasnya untuk menampung cinta Ilahi menjadi berkurang. Dan semakin sadar jiwa ini meniatkan dirinya sebagai pelayan Tuhan untuk alam ini maka wadah ini akan terus tumbuh sehingga semakin banyak kesadaran cinta Ilahi yang mampu ditampungnya.
Namun sebaliknya, sebuah wadah bisa juga mengalami degradasi, mengecil karena terjadi kebocoran, manakala sang pemilik tidak merawatnya. Penyakit-penyakit hati seperti kecemasan, iri hati, dan emosi negatif lainnya akan membuatnya korosif, berkarat dan pelan pelan menggerogoti dari dalam hingga akhirnya bocor dan tak mampu lagi menampung cintaNya dalam jumlah yang cukup.

Ketika cinta Ilahi ini tak tersedia cukup banyak dalam jiwa kita, maka seseorang akan menjadi jiwa yang merasa hampa, kosong, tidak bahagia dan kehilangan keberadabannya sebagai manusia. Akibatnya tugas-tugas dari Tuhan yang seharusnya mampu diemban sebagai saluran berkat Ilahi di muka bumi tak lagi mampu dijalankan.

Dalam pusaran dunia yang serba materi seperti sekarang ini, membuat manusia secara tak sadar menjauh dari kesadaran sejati. Bertahan hidup dengan cara bekerja mati-matian, menghabiskan waktu dan tenaga untuk bisnis dan pekerjaan, hingga lupa, ada jiwa yang mendiami tubuh fisiknya. Jiwa yang membutuhkan cintaNya untuk dapat terus hidup dan berbahagia. Karena bahagia bukanlah seberapa banyak uang yang mampu dikumpulkan, namun seberapa mampu kita mensyukuri rizki yang kita dapatkan. Dan kemanusiaan kita akan berfungsi ketika kita dapat membagikan kebahagiaan ini kepada makhluk Tuhan yang lain.

Bersihkan diri dan siapkan wadah yang layak untuk cinta Ilahi.  ^_^

Jumat, 06 Juni 2014

Ibu

Bulan tepat setengah, berpendar indah, putih cemerlang di tengah angkasa nan luas, namun aku tak sempat memandanginya lebih lama, aku tenggelam dalam aliran airmata mu yang deras mengalir, ketika lantunan kata yang penuh cinta memelukmu erat. Bundaku, aku tahu betapa pedih yang harus kau tanggungkan demi mengiyakan semua tugas muliamu sebagai ibu bagi kami. Karena aku tahu, tak semua anakmu mengerti beban yang kau sandang selama ini. Maafkan kami anak anakmu, yang masih juga merengek manja, mengeluh dan mengaduh ketika kau mengajak kami membantumu melakukan tugas tugas muliamu. 

Beberapa mungkin tak sampai terucap, namun bagiku tak pantas itu terlintas di pikiran kami. Bundaku, aku tahu pasti, takkan engkau memarahi kami untuk kenakalan kami. Namun ada satu yang tak bisa engkau sembunyikan,  aku menangkap sebersit sedih dalam paras ayumu malam tadi.

Pun begitu, masih juga engkau memanjatkan do'a bagi kami, "Tuhan ampuni mereka, mereka hanya belum mengerti apa maksudku."

Menjadi ibu bagi kami anak anakmu menjadi panggilan jiwamu, maka biarlah menjadi anak anak yang patuh padamu juga menjadi panggilan jiwa kami. Terimakasih selalu memaafkan semua anak anakmu dan membawa semua tanpa kecuali dalam do'a do'a mu. Kasih ibu memang sejati, kasih yang tak pernah menuntut balasan, kasih yang tak pernah lekang dimakan zaman. Terimakasih Ibundaku...

"Ya Rabb, karuniakanlah senantiasa kesehatan, kebahagiaan dan cukupkanlah apapun yang beliau butuhkan, sayangilah beliau sebagaimana beliau menyayangi kami sejak kami kecil dahulu... "

Bunda, cinta dan do'a dari kami untukmu


Selasa, 03 Juni 2014

Damai Kita di Tanah Yogyakarta

Dalam sejarahnya Yogyakarta dikenal sebagai kota yang aman, tenang dan damai. Ketika terjadi kerusuhan pada tahun 1998 di berbagai kota, di Yogyakarta justru terjadi aksi damai yang di dukung oleh berbagai macam elemen masyarakat dan dari semua suku yang tinggal di Yogyakarta. Semua berkomitmen untuk menjaga kedamaian di Yogyakarta. Saat itu teriakan damai benar benar mampu meredam dan membentengi arus kekerasan dari kota lain di dekatnya, hingga perusuh tak mampu menembus masuk Yogya. 

Namun beberapa hari yang lalu, terdengar kabar tentang terjadinya aksi kekerasan di tanah Yogyakarta, berbagai macam isu berkembang simpang siur, namun yang paling keras terdengar bahwa kekerasan itu berbau "sara". Dari segi manapun memang kekerasan tak bisa dibenarkan, apalagi yang terjadi tersebut adalah sebuah penyerangan pada sekelompok orang yang sedang melakukan do'a bersama. Di sosial media, pihak pihak yang merasa bersimpati dengan korban berteriak keras dan tajam, aroma tuduhan, menyalahkan dan foto korban memang cukup untuk membuat bergidik dan mendidihkan rasa tidak terima atas ketidakadilan. 

Terdengar keras kecaman tentang perilaku kekerasan, kasus kekerasan dengan isu sara memang membuat miris, bagaimanakah cara mengatasinya? Cukupkah dengan diam dan menyerahkan pada pihak yang berwajib? Atau haruskan dilakukan penghakiman oleh masyarakat karena merasa tidak puas dengan hukum yang ada? Atau semua harus berteriak dengan keras mengecam kekerasan tersebut? Bisakah itu mengubah keadaan dan mengubah kesadaran pelaku kekerasan hingga ke akarnya?

Sebatang pohon yang tak berakar dalam akan mudah tumbang tertiup angin, dan bangsa yang lupa bagaimana akarnya akan mudah dibawa kepada paham paham yang sebenarnya dia tak benar benar memahaminya. 
Semenjak lama, nenek moyang bangsa ini sudah memiliki filosofi, ajaran budi, dimana mereka tahu, kekerasan bukanlah untuk dilawan dengan kekerasan, namun kekerasan hanya bisa musnah apabila pelakunya disadarkan atas perilakunya tersebut. Menghadapi kekerasan dengan represif memang bisa menghentikan sementara kekerasan tersebut, karena pelaku jera akibat takut akan hukuman yang setimpal. Namun itu tidak menjamin si pelaku sadar. Meneriakkan dengan keras perlawanan atas kekerasan hanya akan membuat kekerasan semakin menguat dan kebencian semakin berurat berakar. Akhirnya yang benar benar mampu memutus mata rantai kekerasan adalah pahamnya seseorang akan kasih sayang dari Sang Maha Pencipta. Raden Ng Ranggawarsita pernah menuliskan dalam salah satu serat, "Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti" bahwa kekerasan hati dan keangkaramurkaan hanya akan sirna apabila dilebur/dikalahkan oleh sikap lemah lembut kasih sayang yang didapatkan dari manembah pada Yang Maha Kuasa (= pangastuti). 

Merunut semua perjalanan Yogyakarta tersebut, maka insiden yang terjadi beberapa saat lalu seharusnya dijadikan cermin bagi setiap individu  yang peduli akan hal ini. Seberapakah kita menanamkan kasih sayang untuk orang orang terdekat kita, seberapakah kita memahami lingkungan sekitar kita tinggal, seberapakah kita memiliki kepekaan sosial, sifat toleransi dan cinta kasih. Tak perlulah menunjuk keluar mencari kambing hitam, akan lebih indah bila setiap kita memulai dari diri sendiri, dengan koreksi diri dan membenahi ke dalam diri. Karena apa yang kita perbuat itulah yang akan kita nikmati hasilnya. 

Sepenggal cerita dari Yogyakarta, semoga menumbuhkan sepenggal cinta yang memiliki makna luar biasa untuk kehidupan manusia.

Love Yogya and you 


Senin, 26 Mei 2014

Melepas Kecewa Menggapai Syukur

"Satu kekecewaan itu ibarat sebutir peluru yang langsung ditembakkan  tepat ke jantungmu, sehingga merontokkan semangat dan menghancurkan seluruh sendi kebahagiaanmu. Dan hidup pun seakan menjadi lumpuh."

Dalam hidup ini, pasti kita pernah dihadapkan pada satu situasi yang sama sekali meleset dari prediksi, atau pada suatu keadaan dimana kita sudah melakukan segala sesuatunya dengan maksimal namun ternyata hasil yang didapatkan tetap tidak seperti yang diharapkan. Atau seperti yang saya alami hari ini, dimana hari ini adalah satu hari kerja yang diapit oleh dua hari libur, pada pagi tadi, saya berangkat dan bekerja sebagaimana biasa, dan baru pada pukul 16.00 wita, saya tersadar bahwa ternyata hari ini adalah cuti bersama perusahaan. Sempat ada perasaan kecewa yang begitu besar, karena bila saya tahu dari beberapa hari yang lalu, saya bisa pulang ke Yogyakarta untuk menengok anak anak saya disana, dan mendapatkan libur yang panjang untuk bisa pulang ke Yogya adalah sesuatu kemewahan bagi saya, dan hari ini berlalu begitu saja. aarrrgghh..Terbersit sesal, agak dalam. Hingga rasanya lunglai, ah,,, harusnya saya sudah ada di disana, memandangi merapi, memandangi alun alun. 

Sembari pulang dari kantor, terus menerus saya mengolah rasa ini dan berusaha melepaskannya, mungkin ini sangat sederhana buat sebagian orang, tapi buatku sangatlah berarti, "waktu adalah milik Tuhan, akan ada saatnya bersama dengan mereka lagi, saat ini berarti ada yang harus diselesaikan disini, " kata mbak Adek yang sangat bijaksana. Ya, memang benar apa yang dikatakan semua teman dan anak-anak saya. 
Dan, diakhir perenungan, dengan penuh keikhlasan saya serahkan semua hasil kerja ini untuk perusahaan tempat saya bekerja, mungkin saja sebelum ini saya memiliki hutang waktu dengannya, dan saya impaskan dengan bekerja di hari libur ini, perasaan lega menyelimuti jiwa saya, dan saya merasakan kehangatan cinta dari pelukan sahabat-sahabat dan anak anak. indah.

Tuhan, terimakasih, dan terimakasih kepada guru yang telah mengajarkan saya untuk menerima hidup apa adanya.

"ketika kita mampu melepas kekecewaan dengan cara mengkoreksi kekurangan pada diri sendiri, maka timbullah perasaan rela dan keikhlasan atas apapun yang terjadi pada diri kita. Selanjutnya kita akan merasakan betapa indahnya pelukan cinta dari para sahabat di sekitar kita. Rasakan kehangatan cinta mereka menyelimuti jiwamu, dan bersyukurlah atas karunia-NYA"

Minggu, 18 Mei 2014

Bernyanyi dengan Bijaksana

Di awali pada suatu pagi, beberapa hari lalu, ketika aku berangkat ke kantor, seperti biasa hanya ditemani oleh suara radio. Melalui penyiar yang selalu memperdengarkan kegembiraannya, lagu demi lagupun berlalu sepanjang perjalanan pagi itu, hingga pada satu lagu yang cukup mengusikku, entah apa judulnya, yang pasti dibawakan oleh grup yang cukup kondang di negeri ini. Sebuah lagu yang mengisahkan tentang kekecewaan seseorang terhadap kekasihnya karena merasa ditinggalkan, hingga menimbulkan kesedihan yang berujung dendam. Walaupun sebenarnya banyak lagu yang isinya meratap, dendam, sumpah serapah, namun yang ini menarik untuk dicermati, mengingat sang pengarang dengan berani membawa bawa istilah karma. Walaupun sebenarnya sih sah sah saja seseorang mengusung istilah karma dalam lagunya, hanya saja, aku merasa ada yang tidak pas dengan pemahaman tentang karma yang di suarakan melalui lagu itu, 


"aku yang terusir, jauh dari kamu, jauh dari kamu
cinta dan harapan dibunuh dan mati
bangkit dan terbunuh lagi (semua karena dirimu)
Aku yang mengemis, mengais cintamu seperti pengemis
aku yang dibuang dari relung hati orang yang kucinta

oh Tuhan ampunilah dosa, dendam aku padanya
menunggu karma, aku menunggu karma

dengar dan ingatlah saat aku bangkit dari kesedihan
engkau kan berlutut & memohon diriku, memohon ampunan dari diriku

oh Tuhan ampunilah aku, niat buruk di doa
aku hanya inginkan dia, merasakan getir cinta

menunggu karma (membalasmu)
aku menunggu karma (membalasmu)
menunggu karma (membalasmu)
aku menunggu karma (membalasmu)

Sepertinya ini kali kedua sebuah grup band mengusung tema tentang dendam dengan mengatas namakan karma. Dulu beberapa tahun silam juga ada sebuah grup Band yang terang terangan memberi judul lagu mereka "Karma", yang isinya adalah kurang lebih sama "jangan menangis sayang, kuingin kau rasakan pahitnya terbuang sia sia, memang pantas kau dapatkan." 

Dari dua lagu tersebut rasanya cukup mewakili, bahwa aturan tentang karma yang diyakini umat Hindu dan Buddha dipahami secara salah oleh orang kebanyakan. Seakan akan aturan tentang karma adalah tentang pembalasan atas sesuatu hal buruk dan dekat sekali dengan dendam kesumat. Saya bukan penganut Hinduism ataupun Buddhism, namun saya berusaha memahami apa yang sebenarnya di definisikan tentang hal tersebut menurut mereka. Bukankah kita harus memahami satu peristilahan berdasar budaya asal istilah tersebut timbul agar tidak terjadi salah paham? 

Yang dimaksudkan dalam lagu diatas oleh sang penulis lagu sepertinya adalah tentang Hukum Karma, yaitu satu hukum yang diyakini oleh umat Hindu dan Buddha sebagai hukum alam yang berlaku universal, sebagaimana hukum gravitasi, dimana hukum ini mengikat semua makhluk di muka bumi ini, baik yang mengetahuinya maupun yang tidak mengetahuinya. Hukum karma ini diyakini sebagai hukum sebab akibat, atau hukum tabur tuai. Siapa berbuat dia yang menuai. Hingga titik ini, pemahaman penulis lagu tidaklah salah, bahwa seseorang yang berbuat jahat maka dia akan mendapat balasannya. Karena memang menurut pemahaman hukum karma dalam Hinduism & Buddhism bahwa siapa yang melakukan dialah yang akan mendapatkan dan itu tidak dapat diwakilkan kepada orang lain, walaupun itu keturunannya sekalipun. 
Pencipta lagu ini menyuarakan hal tersebut, yaitu suara seseorang yang sedang dilanda sakit hati yang amat sangat maka ego-nyapun berbicara lantang, bahwa pasti akan ada balas yang didapatkan oleh orang yang menyakitinya. Seperti yang diulas diatas, hingga titik pembicaraan ini masih bisa dibenarkan, akan tetapi bila dipahami lebih jauh, ternyata ada pemahaman yang belum pas.

Menurut ajaran Buddha yang saya baca, "kehendak untuk berbuat itulah yang dinamakan karma, setelah berkehendak orang akan melakukan perbuatan melalui berpikir, ucapan dan tubuh jasmani". Jadi bila menurut pemahaman aslinya baru berniat lalu berpikirpun itu sudah membentuk karma, bisa karma baik, bisa juga karma buruk. Bila dalam lagu tersebut sang penulis membuatkan alur bahwa seseorang yang tersakiti berharap, bahkan sampai berdo'a agar orang yang menyakitinya mendapatkan kegetiran yang sama, disinilah letak kesalahannya, dengan pemikiran buruk tersebut berarti orang yang tersakiti itu justru membentuk karma buruknya sendiri, dan bila demikian maka menurut hukum karma, dirinya sendirilah yang akan mendapatkan balasan seperti yang dia pikirkan/harapkan agar terjadi pada orang yang menyakitinya. Ironis bukan?

Kembali pada lagu diatas. Menurut Bunda Arsaningsih seorang guru meditasi dengan energi, beliau menyatakan bahwa sebuah lagu adalah sarana mengungkapkan suasana hati, bila sebuah lagu dinyanyikan dengan penuh penjiwaan maka akan mampu menyentuh relung hati kita, dan akan tersimpan dalam rekaman bawah sadar orang yang menyanyikan, syair lagu bisa menjadi semacam affirmasi ke dalam diri. Bila sebuah lagu memuat sesuatu yang salah, tentu saja berarti orang yang menyanyikannya dengan penuh penjiwaan adalah sedang mengaffirmasikan sesuatu yang salah pula ke dalam dirinya. Oleh karena itu sebaiknya memang kita cermat dan selektif memilih lagu agar kita tidak menancapkan pemahaman yang salah ke dalam diri kita. 

Bernyanyilah dengan bijaksana


Just a note :

Bahwa segala tindakan akan dinilai dari niatnya, ketika seseorang berdo'a atau berharap atas nama dendam tentunya tak akan bisa dibenarkan oleh paham atau agama apapun itu.

dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, aku mendengar Rasulullaah salallahu 'alaihi wassalam bersabda, 
" Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapat balasan sebagaimana niatnya. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah & Rasulnya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa hijrahnya diniatkan untuk kepentingan harta dunia yang hendak dicapainya atau karena seseorang wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya akan dibalas sebagaimana yang ia niatkan."